Buka Jasa Suruhan Apa Saja Asal Halal,Santo Suruh Bisa Dapat Rp5 Juta per Bulan: Tidak Ada Gaji

Table of Contents

Kisah Susanto, yang disapa Santo (31), bertahan hidup di Jakarta dengan menggali usaha apapun yang halal.

Santo tidak ingin memiliki pekerjaan kadang-kadang di kantor dengan gaji yang tetap setiap bulan.

Senangnya bekerja sebagai pengemudi taksi merupakan idaman bagi banyak orang.

Tapi hal seperti inilah yang secara harfiah sebaliknya dari yang mereka inginkan (31).

Ia mendapatkan ide usaha tepatnya setelah ia mendapat kesempatan saat berjualan galon di daerah Bekasi pada tahun 2019 silam.

Saat itu, Santo sering banyak menerima tugas tambahan selain mengantar galon ke rumah-rumah.

"Saya membuka bisnis galon sejak tahun 2019, lalu saya melihat peluang," kata Santo dalam tayangan video YouTube Kompas.com, 'Strategi Menghadapi Hidup di Jakarta', Rabu (5/2).

"Karena sering dibayar penghuni di komplek Duta Indah mungkin untuk beli makanan, pasang lampu," katanya.

Selain itu, Santo bahkan menerima perintah untuk memperbaiki genteng yang bocor dan antar jemput anak sekolah.

Mungkin aku melewati waktu membawa anak-anakku dan menunggunya, ya makin dekat aku melihat peluang bisnis, mengapa aku tidak mencoba membuka bisnis jasa penyewaannya.

Kondisi ini kemudian memicu Santo untuk putar otak dan memulai layanan jasa suruhan bernama 'Santo Suruh'.

Layanan ini dibuka pada tahun 2019 dan berkembang pesat pada tahun 2020 selama pandemi Covid-19.

"Pada saat Covid-19 muncul, nah di situ banyak pekerja tambahan," kata Santo.

"Terakhir, saya mencoba merekrut temanlah secara perlahan-lahan, satu per satu, dan hingga kini (usaha masih berjalan)," ia ucap.

Santo yang sekarang disebut sebagai CEO Santo Suruh memiliki sekitar 300 mitra yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Semarang.

Dia menekankan bahwa Santo Suruh adalah layanan penyalur jasa suruhan yang memiliki jangkauan pekerjaan luas.

"Yang penting kan slogan saya, selagi halal, ya kita kerjakan," kata Santo.

Ia mewujudkan prinsip bahwa usaha apa pun nilainya bersumber dari kemaksimalan upaya dan menanamkan keberanian mencari peluang halal dalam setiap kesempatan yang ada.

Tadi aku akan mengubur seekor kucing, karena aku telah dipesan melakukan penguburan kucing.

"Saya panggil ini anak kucing, mengingat bahwa bagaimana peluang dilempar (dapat uang), jika kita mau bekerja, ya harus seperti ini," pungkasnya.

Sebagai informasi, jasa Tourism Santoro ini merupakan pelayanan tertentu yang unik.

Rancangan Santo tidak hanya diagendakan untuk satu pekerjaan saja, melainkan menangkap secara keseluruhan permintaan pelanggan.

Susanto mengatakan, keseluruhan hal yang dimaksud pun terkadang melampaui batas pemikirannya.

Di antara mereka, ada pelanggan yang pernah memintanya untuk membersihkan kotoran kucing, anjing dan bahkan untuk menguburkan hewan yang sudah mati.

Saya pernah juga pernah diperintahkan untuk melepaskan lampu, membawa bangkai tikus, bangkai kucing.

Ayam harus dibersihkan terus karena pemilik rumahnya jijik saat melihat sampah ayam berada di depan rumah.

Sekarang-nya ada kucing buang air di garis depan rumahnya karena pemilik rumah malu, jadi menugaskan saya untuk membersihkan.

"Kalau nemenin orang berantem juga pernah," ucap Susanto.

Namun pria yang tinggal di kompleks Duta Indah, Desa Jatimakmur, Kecamatan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi, ini tidak pernah menyelidikinya.

Karena dia siap melakukan apa saja dalam konteks yang tidak menyalahi aturan dan halal, hanya untuk mencari uang.

"Apa yangrangkaian ini melakukan dianggap tidak trendi untuk beberapa orang, tapi pada diri saya itu menjadi perhatian," lugasnya.

Harga tarif untuk layanan jasa Susanto bervariasi.

Apakah itu tergantung pada tingkat kesulitan pekerjaan serta jarak dari rumah ke lokasi pelanggan.

Biaya nominal hanya diberikan untuk jasa Susanto saja, dan ia tidak melebihkan atau mencari keuntungan dari segi barang atau kebutuhan pekerjaan yang lainnya.

Biasanya tarif paling mahal diperuntukkan bagi keperluan pembersihan rumah orang yang pindah, kemudian barang-barang dipindahkan ke tempat baru secara lambat.

Karena untuk jasa tersebut tidak hanya perlu energi banyak, ia juga perlu mengajak rekan lainnya dan membutuhkan waktu tidak hanya satu hari.

Harganya beraneka ragam, mulai dari yang paling murah Rp5 ribu hingga yang paling mahal Rp5 juta.

"Baiklah, jika seseorang meminta saya untuk membeli rokok, jadi harga rokok misalnya Rp10 ribu dan saya hanya perlu membayar biaya transport, maka harga rokoknya tidak akan bertambah," jelasnya.

Mereka mengatakan sistem mitra di Xiao'erjing itu disebut ini "mitra yang tidak ada gaji".

"Jadi, tidak ada upah. Hanya ada pekerjaan atas kesediaan dan ada pembayaran. Jika belum ada pekerjaan ya tidak ada pembayaran," ujar Susanto.

Seorang laki-laki yang memiliki empat orang anak dan istri mengatakan bahwa pendapatan bulanan dari bisnisnya terus meningkat.

Meskipun Susanto memperkirakan, aktivitas penyediaan jasanya tersebut masih tergolong baru saja.

Pendapatannya bahkan lebih besar ketika dibandingkan dengan penghasilan ketika dirinya masih bekerja sebagai pengantar air galon isi ulang.

"Pernah suatu ketika gaji saya dari menjadi tukang antar galon hanya Rp500 per galon. Sekarang, Alhamdulillah, di pekerjaan ini saya bisa mendapatkan gaji Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan," kata Susanto.

Susanto yakin, doa berkah dari ibunya dapat membawanya sampai pada saat ini.

Hal baik itu semua dinilai dari buah kesabaran serta perhatian yang diberikan selama merawat istri yang dalam kondisi (<b>Orang dengan Gangguan Jiwa</b> - OD GJ).

"Pernyataan senistif saya kepada hasil yang saya dapatkan, bisa berbentuk pasien dalam seminggu bisa pulih, bayangkan kalo waktu gue lagi batuk‚ gue ngucing lewat bis.* asalapa tubuh emak gue sih”.

Menurut pemaparan Susanto, sang ibu menyesuaikan cukup baru dengan kondisi tersebut.

Situasinya terjadi karena muncul suatu masalah dalam keluarganya.

Seorang jurnalis dari Tribun Bekasi tidak diizinkan untuk mempublikasikan masalahnya oleh Susanto.

"FAQ mengapa ada masalah di keluarga akhirnya menjadi begitu," katanya.

Tapi Susanto tidak ingin orang-orang merasa kasihan terhadapnya.

Karena merawat orang tua dan ibunya seorang diri tanpa bantuan ayahnya ialah tanggung jawab dirinya sendiri.

"Itulah tanggung jawab saya sendiri, jadi tidak perlu masyarakat tahu juga," pungkasnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Google News

Posting Komentar