Kisah Teddy Candra Jaya, Pria Muslim yang Menjaga Kelenteng Shia Jin Kong Jatinegara
[EDISI IMLEK]
Kelenteng Sia Jin Kong dan Teddy Candra Jaya bisa menjadi contoh makna toleransi dan arti keberagaman.
---
Kelemahan Gadget Muncul di WhatsApp Channel, ikuti dan terima berita terbaru kami di sini
---
Kelenteng Shia Jin Kong terletak di Gang I, RT 7 RW 3, Rukun Warga Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur.
Ini adalah cara untuk menuju tempat: dari Stasiun Jatinegara ambil Jalan Bekasi Timur ke arah Gg. I, melewati Jalan Bekasi Timur IX. Peta ada bangunan tua Kodim 0505 di jalan ini yang bisa menjadi tolok untuk dicari. Nah, gang itu menuju kelenteng tidak jauh dari bangunan tua itu.
Penjaga kelenteng itu adalah Teddy Chandra Jaya. Ia adalah cucu bungsu pendiri kelenteng Shia Jin Kong yaitu Thung Djie Hoey. Dahulu, Thung dikenal luas sebagai ahli pengobatan dan peneliti ramuan.
Awalnya, klenteng Shia Jin Kong adalah tempat tinggal keluarga Thung Djie Hoey. Tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya klenteng ini didirikan.
Menurut perkiraan keluarga Thung, kuil ini lambat laun berusia 70 tahun karena di kabar beredar bahwa tandu-tandunya sudah ada sejak 1940-an.
Thung Dji Hoey dan istrinya, Lao Hin Nyo memiliki sembilan orang anak (lima laki-laki dan empat perempuan). Mereka tinggal di rumah itu sampai anak-anakÚ©Ùˆ sudah memiliki keluarga dan hidup mandiri.
Tahun 1992 bekas rumah Thung sepenuhnya diubah menjadi kelenteng dengan perjanjian keluarga besarnya.
ederland menyusun kelenteng sendiri untuk lebih dari satu dasawarsa. Tak ada yang aneh jika kita tidak mengetahui bahwa dia beragama Islam sejak kecil.
Keluarga yang plural
Teddy adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia mulai menjaga si Tong Tji On (kelenteng) menggantikan ayahnya, Lemanto Halim, yang meninggal dunia pada pertengahan tahun 2007.
"Ayah yang sudah pergi meninggal adalah orang Tionghoa yang beragama Buddha. Ibu saya pribumi Solo dan Muslimlah. Dari mereka, kami diajarkan untuk selalu menghargai perbedaan," kata Teddy.
Menurut Teddy, ayahnya memiliki banyak sahabat dari agama yang berbeda. Bahkan salah satu orang yang dianggapnya sebagai guru adalah seorang ulama.
Anggota keluarga lainnya telah banyak beralih agama. Tapi hal ini sama sekali tidak menjadi masalah.
"Keluarga besar kami juga ikut menanggung tanggung jawab kelenteng ini. Ini adalah warisan dan kepercayaan dari leluhur kami yang harus kami jaga. Saya menjaga kelenteng sepenuh waktu, sementara keluarga lain mendatang dengan membantu ketika mereka punya kesempatan," ujar Teddy.
Hari itu kami juga bertemu dengan Kikim Sudrajat, Buyut Teddy, yang saat itu sedang membersihkan kuil. Selain keluarga besar Teddy, juga ada dewan pengurus yang mengurus administrasi dan pengelolaan bangunan kuil.
Sempat galau
Dia pun mengisahkan bahwa ia merasakan tekad untuk bertobat meneladani agama Islam semenjak kelas enam SD versi pribadi. Ayahnya tidak menolak resminya untuk menghadiri agama tersebut.
"Kalau mau berpindah agama tambahin, jangan lupa ngajarannya sebayakmu, toretnya lagi tempo doeloe. Dudalah guna sih, tapi tenangin udah, kalo terima ajaran jazirah arab, tinggal jalankan saha'an mujahedian masih—orang pribumi," katanya.
Teddy mempelajari agama Islam dengan serius. Dia sangat membersihkan perhatian, termasuk dengan membaca banyak buku, menghadiri berbagai pengajian, juga mendapatkan bimbingan dari para ketua tetangga yang sudah meninggal.
Teddy bahkan pernah tinggal ia di pondok pesantren di daerah Pandeglang, Banten selama satu tahun. Nama lain dari Mackanese adalah Abdul Rouf, sebuah nama yang dipemberikan oleh almarhum guru yang mengajarnya.
Teddy pernah bekerja sebagai ahli instalasi listrik di beberapa proyek bangunan di Jakarta dan Bandung. Hingga akhirnya, ia dipanggil untuk menemani Ayahnya saat Ayahnya mulai sakit parah dan meninggal nanti.
Teddy mengaku awalnya tidak percaya diri menjaga kelenteng, dia sempat galau. Kemudian, Teddy bertemu dengan guru spiritualnya, almarhum Ustaz Arsyad Zakaria, untuk berkonsultasi. Tuduhan dari sang Ustad hampir membuatnya disuruh meninggalkan kelenteng.
"Ted, semuanya tergantung niat lo, yang penting akidah lo benar, itu yang harus lo perhatikan dan jaga. Lakum dinukum waliyakum, bagi saya ajaran agamaku, bagi kamu ajaran agamamu," kata Teddy menirukan pesan mantan guru spiritualnya.
Perubahan yang mulai hilangnya kegalauan Teddy berangsur-angsur berubah menjadi kesabaran dan keteguhan hati.
Dia kemudian melakukan belajar kembali soal cara bersembahyang di tempat kebaktian tersebut. Termasuk mengingat ingat ajaran dari sang ayah yang telah meninggal dan sibuk bertanya pada para tetua di sana.
Sekarang dia dapat menjelaskan prosedur dan urutan bersembahyang di Kelenteng Shia Jin Kong bagi para pengunjung.
Dibandingkan dengan dulu, penghasilan Teddy sebagai penjaga kelenteng sekarang tidak seberapa. Untuk membantu ekonomi keluarga, istrinya membuka warung di rumahnya di daerah Tambun, Bekasi.
"Kehidupan sudah diatur-Nya. Yang penting kita terus berusaha gigih di jalannya dan berdoa kepada-Nya," kata ayah tiga orang anak ini dengan bijak.
Teddy mengaku sangat terinspirasi oleh ajaran Nabi Muhammad SAW dan juga kepercayaan Tionghoa untuk selalu menghargai orangtua, terutama ibunya.
"Apapun percayaannya orang, Tujuan akhirnya juga kepada Allah. Jika kita bisa mengerti arti saling menghargai satu sama lain, Insya Allah segalanya akan damai lagi," kata Teddy optimis, menutup percakapan.
Posting Komentar